Enam tahun lalu… …seorang ibu menerobos masuk ruang kuliah kami. Ia bercerita bahwa suaminya saat itu sedang sakit dan membutuhkan banyak biaya. Ia memohon kemurahan hati kami - mahasiswa yang katanya anak-anak rakyat, yang kuliahnya sebagian dibiayai oleh keringat rakyat. Salah satunya mungkin suami si ibu itu.
Selang beberapa bulan kemudian, si ibu muncul lagi. Masih dengan cara menerobos masuk ruang kuliah. Hanya saja, kali ini si ibu - masih dengan wajah memelas - bercerita bahwa anak perempuannya lah yang sakit. Kami pun kembali menyumbang ala kadarnya. Hmm,… lalu bagaimana dengan suaminya…?
Semester depannya, si ibu kembali menerobos masuk. Kali ini ia bertambah berani, tidak seperti sebelumnya, karena saat itu seorang dosen tengah mengajar di kelas kami! Spontan si dosen mengusir si ibu. Lalu ia tidak pernah nampak lagi.
Empat sampai tiga tahun yang lalu…
…beberapa kali saya melihat si ibu di wilayah kampus. Entah apa lagi yang dijadikan perisainya untuk menerobos masuk ruang-ruang kuliah.
Enam jam yang lalu… ….setelah shalat Jum’at, si ibu yang sama tengah duduk sambil menengadahkan telapak tangannya di depan pintu keluar BATAN. Kali ini penampilannya sedikit berbeda. Enam tahun lalu, bajunya begitu lusuh, berbeda dengan siang tadi: begitu putih mengkilat.
Teringat khutbah Jum’at tadi. Khatibnya bilang bahwa kemiskinan adalah masalah mental. Karena ada yang hidupnya pas-pasan tapi bahagia, ada juga yang kekayaannya melimpah tapi selalu merasa kurang.
Beberapa saat kemudian, si ibu mendekati warung. Mengeluarkan sekeping uang logam kuning, untuk kemudian melenggang - dengan asap mengepul dari mulutnya…

i wonder, what was the turning point that made her change to the recent sightings.
anyway, i also wanna say that it reflects one of the dominan views within the nation. we think, feel and act as a poor nation (now); what could be a turning point to change that?
Comment by izeng — 18 May 2005 @ 6:43 am