Ceritanya berawal dari satu keluarga yang pernah dateng ke hutan keramat di daerah Kampung Kuta, Ciamis, tahun 1980an. daerah itu dipercaya keramat karena, konon, para leluhur memulai peradaban kampung kuta dari sana, dan akhirnya mempercayakan kepada masyarakat kampung kuta secara turun-temurun untuk menjaga hutan tersebut. anyway, di dalam hutan itu ada satu rawa yang dikenal “suci”, siapapun yang datang untuk berendam di sana, bakal terkabulkan keinginannya. Dan jadilah suami-istri itu berendam di sana. Mereka, ternyata mengalami peristiwa aneh..paha sang suami penuh dengan lintah, tetapi sang istri tidak (what’s so strange about that?) Kuncen hutan keramat ketika itu menafsirkan bahwa nantinya, keturunannya akan menjadi menak, sebutan untuk bangsawan di sunda.

Dan begitulah bagaimana seorang petinggi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (DisParBud) cerita tentang pengalaman orang tuanya di Kampung Kuta, di sela perayaan upacara adat Nyuguh, yang diadakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat. Cerita tadi, katanya, yang memberinya inspirasi untuk berusaha mempertahankan adat yang masih ada di kampung tersebut. Dan usahanya emang ngga sia-sia..dengan kemauan dari beberapa tokoh masyarakat juga, Kampung Kuta sekarang dikenal sebagai salah satu masyarakat adat yang masih tersisa di Jawa Barat. Tahun 2002, kampung ini juga mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah atas jasanya mempertahankan satu area hutan seluas 40 Ha., yang oleh mereka disebut Leuweung Karamat itu. Banyak media yang sudah mengulas cerita tentang kampung ini — SCTV, Kompas, Pikiran Rakyat –, tapi saya ingin mencoba mengulas dari sisi lain.

Dari apa yang saya lihat di lokasi secara langsung, sebenernya adat yang masih tersisa di masyarakat (hanya) menjaga hutan keramat, menjalankan beberapa upacara adat, dan mempertahankan rumah adat dari kayu, meski menurut saya itupun sudah cukup besar manfaatnya. Bentuk-bentuk pamali (tabu) sudah tidak lagi dijalankan, selain yang berhubungan dengan hutan keramat. Pertanian yang dikembangkan sekarang — sejak tahun 60an sebenarnya — adalah sistem pertanian yang didapat dari pemerintah, dengan bibit IR, pupuk urea, dan pestisida. Leuit, tempat menyimpan beras, udah ngga lebih dari sekedar simbol, karena beras yang digunakan udah ngga bisa bertahan lebih dari beberapa bulan saja. Padahal leuit dahulu digunakan untuk menyimpan beras yang berusia puluhan tahun. Kalau ngga ada penyadapan gula kawung sebagai mata pencaharian alternatif — yang kemudian jadi mata pencaharian utama, kampung kuta hanya akan menjadi desa miskin biasa.

Saya sedikit miris waktu ngeliat bagaimana masyarakat ‘dipaksa’ untuk menjadikan kampung ini sebagai kampung adat. Ibu Bupati memberi pelatihan bagi masyarakat untuk membuat anyam-anyaman ‘khas’ Kuta. Kesenian tradisional yang diselenggarakan mendatangkan pelatih dari luar kampung – meski dari desa sebelah, dengan kesenian-kesenian yang bukan khas daerah tersebut. Dibuat jalan-jalan aspal dan prasarana di dalam Kampung, pemberian dana besar-besaran oleh pemerintah untuk pemeliharaan domba dan pemanfaatan lain. Masyarakat kaget, kalo boleh saya bilang, dengan pola-pola eksploitasi yang diterapkan pemerintah. Ingat kata-kata salah seorang personel DisParBud, “bagaimana caranya kita bisa menjual adat…”

Perayaan nyuguh itu sendiri sebenernya sangat sederhana, dan dilakukan oleh intern masyarakat Kuta. Esok harinya, baru diadakan perayaan besar yang mendatangkan para pejabat pemerintah sampai ke tingkat bupati, dan DisParBud Ciamis. Djarum Coklat ikut mensponsori kampung ini sejak diangkat tahun 2002. Dan meskipun DisParBud begitu membela bahwa Djarum bener-bener murni membantu demi lestarinya adat Kuta (meski saya hanya bertanya kenapa ada Djarum di sini..), tapi kebayang besarnya keuntungan yang diperoleh, yang saya liat, sebagian besar didapat dari masyarakat Kuta sendiri. Sedikit keluhan dari beberapa peserta upacara waktu mereka terpaksa menunggu bupati yang telat datang, di tengah terik matahari, kemudian mengiring para pejabat ke ‘kursi tamu’ pertunjukan. Dalam hati saya berkomentar, “ternyata pola bersubmisi terhadap bangsawan ngga pernah bener-bener hilang di masyarakat desa ya…dan para pejabat seneng diperlakukan seperti itu…hhh, siapa sih yang ngga?” (Maaf kalau sedikit emosional …hehe..)

Tapi bukan itu sorotan saya, karena ini emang bahasan untuk para biologist dan biologist-wannabe (kata obod), bukan tukang kritik pemerintah (even though it’s fun :P )..the point is, para tokoh masyarakat dan pemerintah berusaha mempertahankan apa yang dikatakan adat — kesenian tradisional, rumah adat, dsb. — secara parsial (kebayang ngga gimana si ketua adat hunting proposal ke perusahaan di kota untuk ngedapetin dana buat pengembangan adat mereka), tapi sisi kehidupan yang menurut saya menjadi core adat mereka terbengkalai. Apa sih corenya itu?

Ini yang oleh para ethnoscientist dikenal dengan traditional knowledge, sistem pengetahuan tradisional. Saya terkagum-kagum ngeliat bagaimana kuncen bisa membaca “alam”, yang oleh masyarakat diasumsikan mistis. Mereka punya kalender tani sendiri, yang adalah hasil interaksinya dengan alam. Mereka bisa tahu apa yang kira-kira bakal terjadi dengan melihat kehadiran satu hewan tertentu – misal akan ada hujan. Mereka bisa merasakan angin, dan tau apa yang akan terjadi dengan datangnya angin itu. Mereka menyimpan dalam diri mereka apa yang buat kita memerlukan beberapa mesin pintar (dan mahal). Pengetahuan mereka tentang tumbuhan dan hewan, untuk obat misalnya, mungkin adalah hasil interaksinya dengan alam dalam waktu yang lama, yang kemudian diturunkan generasi ke generasi. Saya ragu apakah penelitian selama beberapa tahun — yang kemudian digeneralisir dapat diterapkan di semua tempat–, bisa menggantikan itu semua.

Well, the truth is, efeknya — informasi dari luar — , udah mulai terasa. Sistem pertanian banyak berubah. Mereka juga mulai ragu dengan pengetahuan mereka. Saya diminta untuk melihat, ketika sedang mewawancarai masyarakat tentang tumbuhan obat, apakah bener kalau tumbuhan ini bisa dijadikan obat. “Loh, kalo emang itu berkhasiat di sini, kenapa ragu?” pikir saya. Ngga cuman itu, tapi penurunan informasi pun udah kerasa terputus. Generasi muda, sejak tahun 80an, mulai bepergian ke luar daerah, yang menurut seorang pengamat budaya yang saya temui di sana, merupakan efek dari tahun industri di Indonesia.

Sisi ini tidak diangkat oleh pemerintah, dan justru komersialisasi adat makin mengikis pengetahuan tradisional tadi. Sayang, menurut saya, karena pengetahuan tradisional tersebut memang jarang sekali menjadi sorotan untuk dipublish –atau bahkan didokumentasikan. Saya ngga tau, apakah ada bentuk wisata yang justru mengangkat pengetahuan tradisional itu ketimbang kesenian yang udah dimanipulasi.

Kalau paradigmanya masih profit dan bukan benefit, maka pengetahuan tradisional ngga akan laku terjual. Well, meski yang cukup mengesalkan adalah, pengetahuan tradisional pun sebenernya dapat memberikan profit, yang justru disadari oleh pihak lain. Beberapa perusahaan jamu dan kosmetik –– termasuk Martha Tilaar —, banyak mengambil resep tradisional dari masyarakat adat di Kalimantan. Tapi, tidak ada kompensasi bagi masyarakat adat tersebut, selain secara personal, dan itu untuk sekali bayar. Tentu saja, bagaimana bisa masyarakat kecil bisa mengerti hal seperti itu. Itulah kenapa beberapa LSM sedang bergerak dalam bidang HAKI untuk masyarakat tradisional.

Seperti halnya pemerintah yang perlu mengangkat pengetahuan adat secara lebih bijak, saintis pun perlu berperan dalam permasalahan ini. Pengetahuan tradisional perlu juga diangkat sebagai sesuatu yang bernilai, seperti yang telah dilakukan oleh para ethnobotanist di luar. Tapi bagaimana mengangkatnya ke meja sains kita ? Apakah karena pengetahuan itu tidak ilmiah, sehingga tidak bisa diterima di kalangan para saintis di sini? Atau para saintis yang perlu meng’ilmiah’kan itu ? Atau kita biarkan saja ia hilang tergantikan dengan sesuatu yang lebih reliable ? Bagaimanapun itu, bagi saya ia tetap sesuatu yang berharga. Masyarakat dahulu telah membuka lingkungan kita agar ia lebih bernilai penting di mata kita, dan akhirnya terlestarikan. What should we do? What can we do? Di tengah permasalahan yang perlu dijawab oleh kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan, mungkin itu bisa kita jadikan, tidak hanya tantangan, tapi juga solusi….Maybe!