Umum27 August 2005 12:29 pm

telah berarakan warga synaps bermigrasi ke biophilia.f2o.org, marilah kita berjumpa di sana.. datanglah.. datanglah.. datanglah..

artinya: selamat tinggal blogsome :P

Umum 12:28 pm

telah berarakan warga synaps bermigrasi ke biophilia.f2o.org, marilah kita berjumpa di sana.. datanglah.. datanglah.. datanglah..

Umum6 May 2005 12:43 pm

Enam tahun lalu… …seorang ibu menerobos masuk ruang kuliah kami. Ia bercerita bahwa suaminya saat itu sedang sakit dan membutuhkan banyak biaya. Ia memohon kemurahan hati kami - mahasiswa yang katanya anak-anak rakyat, yang kuliahnya sebagian dibiayai oleh keringat rakyat. Salah satunya mungkin suami si ibu itu. (more…)

biophilia20 April 2005 1:14 pm

Pada suatu kesempatan, dalam sebuah seminar, seorang peserta berkata ‘Saya pikir spesies manusia ini berasal dari luar angkasa, sehingga ia secara evolusi, tidak punya ‘keterikatan batin’ dengan alam. Saat ini kita bisa menyaksikan manusia yang kian jauh terisolasi dari alam dan semua kerusakan yang diakibatkannya’

Well, lain lagi dengan kepercayaan Pak Taufik Affif: ‘Saya yakin manusia adalah bagian dari alam. Sehingga dengan demikian dinamika manusia adalah juga dinamika alam’. Eits… tunggu dulu! Ini bukan berarti bahwa ini adalah sebuah pembenaran untuk segala perusakan yang dilakukan manusia. Karena sebagai makhluk yang dikaruniai akal pikiran, manusia mampu merusak dan juga mampu hidup berkelanjutan, alias selaras dengan alam.

Sepertinya tidak akan ada habisnya kalau membahas apakah manusia itu bagian atau bukan-bagian dari alam, karena ini adalah masalah cara-memandang. Cara kita memandang sebagai manusia. Ada di mana kedudukan kita? (more…)

biophilia17 April 2005 6:25 am

Kemarin di Metro ada wawancara mengenai aktivitas gunung berapi yang terkesan meningkat di Indonesia. Dalam wawancara itu dihadirkan seorang pakar vulkanologi(? tidak ingat namanya, Wimpi?) dan Alain Compost(!). Yang menarik adalah Alain berkesempatan untuk mengutarakan kegundahannya mengenai perilaku manusia Indonesia terhadap bunda pertiwinya. Ketika ditanya mengenai bagaimana hidup di tengah alam yang penuh bencana, dengan lugas dijawab bahwa,

Alam sudah menyediakan petunjuk melalui perilaku binatang dan sebagainya
Namun tentu saja masalahnya adalah
Tapi sekarang manusia Indonesia semakin jauh dari alam, sekarang hewan-hewan sudah habis dijerat, diburu, dibunuh. Manusia Indonesia juga sudah tidak lagi (mampu) membaca tanda-tanda yang telah disediakan alam.

Meskipun demikian, alangkah baiknya pula jika kita tidak menjadi tree hugger freaks yang bertindak irasional dan emosional. Ajakan bapak Wimpi(?) tadi cukup menyejukkan, bahwa karena pada dasarnya kita hidup di daerah rawan bencana maka kita perlu meningkatkan pemahaman kita terhadap alam dan hidup harmonis.

biophilia15 April 2005 1:49 pm

Kemarin malam, saya diperlihatkan Synaps edisi cetak yang diterbitkan oleh kawan-kawan Nymphaea. Judul tulisan ini juga sebetulnya diilhami oleh tulisan yang sepintas saya baca di Synaps edisi cetak itu. Mungkin saya bisa menyumbang lebih dengan tulisan ini. Insya Allah.

Hari Bumi Dulu

Mungkin sudah cukup banyak dari kita yang pernah mendengar sejarah perayaan Hari Bumi, seperti juga yang diangkat oleh Synaps edisi cetak yang baru. Tapi saya akan mengulasnya sedikit saja di sini.

Hari Bumi pertama yang dirayakan pada tanggal 22 April 1970, terjadi atas prakarsa senator Gaylord Nelson. Selama bertahun-tahun beliau ‘bergerilya’ dari kampus ke kampus, dari komunitas ke komunitas, mengkampanyekan tentang kesadaran lingkungan, dan bagaimana pandangan pemerintah Amerika Serikat yang saat itu ‘menomorduakan’ isu-isu lingkungan. Padahal di seluruh penjuru Amerika Serikat saat itu, tanda-tanda penurunan lingkungan telah terlihat. Sejarah kemudian mencatat aksi damai yang diikuti oleh 20 juta orang di seluruh Amerika Serikat pada tanggal 22 April 1970, yang bertujuan untuk menekan pemerintah (saat itu Presiden Kennedy), untuk memasukan masalah-masalah lingkungan sebagai agenda politik yang juga harus diperhatikan. Sejarah lengkapnya bisa dilihat di situsnya

Isu kesadaran lingkungan ini juga tidak lepas dari peran buku terkenal yang ditulis Rachel Carlson: Silent Spring yang terbit tahun 1962. Bahkan pada sebuah publikasi yang dibuat oleh International Institute for Sustainable Development, disebutkan bahwa:

The book’s release was considered by many to be a turning point in our understanding of the interconnections among the environment, the economy and social well-being. Since then, many milestones have marked the journey toward sustainable development

Hari Bumi Sekarang

Sekarang, setelah 35 tahun berselang, dan di tahun-tahun yang lalu, Hari Bumi tidak hanya diperingati oleh masyarakat Amerika, tapi masyarakat di berbagai negara, sebagai sebuah komunitas global. Tercatat dari data Earthday Network, Hari Bumi tahun 2004 lalu dirayakan di 175 negara, oleh sekitar 15.000 organisasi, dan diikuti oleh lebih dari 500 juta orang! We are definietly not alone!

Perlu dicatat juga, bahwa data ini adalah data kegiatan yang dikoordinasikan dengan Earthday Network . Belum lagi organisasi-organisasi lokal yang tidak berkoordinasi langsung dengan Earthday Network.

So….?

Hari Bumi bukan cuma hari dimana kita, mengutip kata-kata temen saya, ‘melakukan hal-hal baik pada bumi’ . Hari Bumi bisa dilihat sebagai hari di mana kesadaran mengenai perubahan kondisi lingkungan mengembang dan meluas di masyarakat biasa (grassroot).

Lebih dari itu hari bumi adalah hari di mana perubahan-perubahan besar, terutama di bidang lingkungan, dimulai. Dan aktor-aktor perubahan itu adalah masyarakat biasa. Hari bumi membawa pesan bahwa: anda tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk membuat perubahan. Dan perubahan dapat dicapai dengan sinergi. Semangat inilah yang dari tahun ke tahun terus dipelihara.

seperti yang dikatakan Senator Gaylord Nelson:

Earth Day worked because of the spontaneous response at the grassroots level. We had neither the time nor resources to organize 20 million demonstrators and the thousands of schools and local communities that participated. That was the remarkable thing about Earth Day. It organized itself.

Banyak kebijakan-kebijakan pemerintah politik dan hukum di Amerika Serikat yang muncul setelah aksi damai 22 April 1970 ini. Mulai dari terbentuknya Greenpeace di Kanada - sebuah organisasi fenomenal dengan aksi-aksi ‘nekatnya’ - satu tahun kemudian. Di tingkat dunia, UNEP (United Nations Environment Programme) dibentuk setelah konferensi PBB di Stockholm tahun 1972, yang diikuti juga dengan pembentukan lembaga perlindungan lingkungan hidup di beberapa negara. Isu sentral saat itu adalah pencemaran udara dan hujan asam di Eropa. Kesadaran pun mengembang semakin luas.

Dan tahun ini, satu minggu lagi, kita dan seluruh warga bumi di seluruh dunia akan kembali diajak mengevaluasi, apa yang telah kita lakukan terhadap bumi. Kembali mempersiapkan diri untuk bersinergi dan membuat perubahan: untuk bumi yang lebih baik!

piki - 98055

etnobotani14 April 2005 4:40 pm

Ceritanya berawal dari satu keluarga yang pernah dateng ke hutan keramat di daerah Kampung Kuta, Ciamis, tahun 1980an. daerah itu dipercaya keramat karena, konon, para leluhur memulai peradaban kampung kuta dari sana, dan akhirnya mempercayakan kepada masyarakat kampung kuta secara turun-temurun untuk menjaga hutan tersebut. anyway, di dalam hutan itu ada satu rawa yang dikenal “suci”, siapapun yang datang untuk berendam di sana, bakal terkabulkan keinginannya. Dan jadilah suami-istri itu berendam di sana. Mereka, ternyata mengalami peristiwa aneh..paha sang suami penuh dengan lintah, tetapi sang istri tidak (what’s so strange about that?) Kuncen hutan keramat ketika itu menafsirkan bahwa nantinya, keturunannya akan menjadi menak, sebutan untuk bangsawan di sunda.

Dan begitulah bagaimana seorang petinggi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (DisParBud) cerita tentang pengalaman orang tuanya di Kampung Kuta, di sela perayaan upacara adat Nyuguh, yang diadakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat. Cerita tadi, katanya, yang memberinya inspirasi untuk berusaha mempertahankan adat yang masih ada di kampung tersebut. Dan usahanya emang ngga sia-sia..dengan kemauan dari beberapa tokoh masyarakat juga, Kampung Kuta sekarang dikenal sebagai salah satu masyarakat adat yang masih tersisa di Jawa Barat. Tahun 2002, kampung ini juga mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah atas jasanya mempertahankan satu area hutan seluas 40 Ha., yang oleh mereka disebut Leuweung Karamat itu. Banyak media yang sudah mengulas cerita tentang kampung ini — SCTV, Kompas, Pikiran Rakyat –, tapi saya ingin mencoba mengulas dari sisi lain.

(more…)

Umum21 March 2005 10:16 am

kadal

Udah jangan bengong! bergabung dan menulislah di sini!

Google Groups Ikut milis swasta106
Email:
Lihat arsip di googlegroups.com